Business Trip ke Tokyo: Pembelajaran Strategi Bisnis dan Industri Konstruksi Jepang

Perjalanan ini memberikan wawasan tentang pengelolaan bisnis global, efisiensi produksi, serta integrasi aspek teknis dan strategis untuk mendukung keberlanjutan industri konstruksi

3/19/20212 min read

Business Trip ke Tokyo: Pembelajaran Strategi Bisnis dan Industri Konstruksi Jepang

Tokyo, 19 Maret 2018 — Perjalanan bisnis ke Tokyo menjadi pengalaman penting dalam memperluas perspektif mengenai praktik bisnis dan industri konstruksi Jepang, khususnya dari sudut pandang seorang marketing engineer. Dunia konstruksi di Jepang memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia, terutama dalam integrasi antara aspek teknis, strategi bisnis, dan keberlanjutan perusahaan.

Di Indonesia, peran sales atau marketing engineer umumnya masih terbatas pada dukungan teknis. Sementara itu, di Jepang, fungsi penjualan dipahami sebagai bagian inti dari strategi perusahaan yang mencakup perencanaan jangka panjang, riset pasar, pengelolaan jaringan, hingga ekspansi global. Atas dasar keterbatasan pengalaman dalam fungsi penjualan strategis dan market survey internasional, kunjungan studi banding ke kantor pusat dan fasilitas produksi di Jepang menjadi langkah pembelajaran yang krusial.

Kunjungan diawali ke Head Office PS Mitsubishi Construction Co., Ltd. (PSMIC) yang berlokasi di Harumi Center Building, Tokyo. Di sana dilakukan diskusi intensif bersama Mr. Budi Saputra dari Overseas Division dan Mr. Onzuka dari PSMIC. Pertemuan ini membuka wawasan mengenai strategi ekspansi global PSMIC melalui misi Go-Global, yang telah dijalankan di berbagai negara berkembang seperti Sri Lanka, Samoa, serta sejumlah pasar potensial di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Selain membahas peluang pasar, diskusi juga menyinggung evaluasi biaya operasional dan administrasi jaringan overseas PSMIC di berbagai kota seperti Jakarta, Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Yangon. Dari sini terlihat bagaimana pengelolaan jaringan internasional dilakukan secara terstruktur dan berbasis efisiensi.

Usai jam kerja, diskusi berlanjut secara informal di kawasan Asakusa sambil menikmati kuliner ramen halal. Dalam suasana yang lebih santai, pembahasan berfokus pada prospek bisnis konstruksi dan infrastruktur di Indonesia. Jepang, melalui skema pendanaan dan kemitraan seperti JICA dan ODA, masih melihat Indonesia sebagai mitra strategis jangka menengah hingga panjang, terutama dalam menghadapi bonus demografi dan percepatan teknologi digital. Di sisi lain, Jepang juga tengah memfokuskan sumber dayanya pada persiapan Olimpiade 2020, sehingga kerja sama dengan negara berkembang menjadi semakin relevan.

Selain kunjungan ke kantor pusat, perjalanan ini juga merefleksikan kunjungan kerja sebelumnya ke sejumlah fasilitas manufaktur dan proyek joint venture di Jepang. Salah satunya adalah Daewa Corporation di Kuwana City, perusahaan manufaktur beton pracetak spesialis curtain wall. Perusahaan ini menunjukkan keunggulan dalam fleksibilitas produksi, pengendalian kualitas permukaan, serta efisiensi logistik melalui sistem batching plant terpusat dan peralatan angkat khusus untuk meminimalkan risiko kerusakan produk.

Kunjungan berikutnya dilakukan ke PSC Shiga Factory di Kouga City, yang memproduksi elemen prestressed precast non-standar berdasarkan desain pelanggan. Pola produksi berbasis pesanan (made to order) dan sistem kerja satu shift mencerminkan pendekatan efisiensi yang disiplin dan terukur.

Selanjutnya, dipelajari pula proyek Joint Venture Instalasi Box Girder untuk pembangunan jalan tol. Pabrik dibangun berdekatan dengan lokasi proyek guna mengoptimalkan waktu instalasi. Strategi ini menunjukkan bagaimana perencanaan logistik dan lokasi produksi menjadi faktor kunci dalam keberhasilan proyek infrastruktur berskala besar.

Di luar agenda teknis, perjalanan ini juga memberikan pemahaman kontekstual mengenai sejarah dan kekuatan industri Jepang. Industri manufaktur telah menjadi tulang punggung ekonomi Jepang sejak era Restorasi Meiji, dan berkembang pesat melalui integrasi teknologi, riset, dan disiplin kerja. Kunjungan ke Yokohama dan Kawasaki memperlihatkan bagaimana kawasan industri dan pelabuhan menjadi pintu masuk modernisasi Jepang.

Kota Kawasaki, khususnya, mencerminkan transformasi industri berat Jepang dari masa perang hingga era modern. Perusahaan-perusahaan di kawasan ini berkontribusi besar pada pengembangan teknologi konstruksi dan infrastruktur global, termasuk dalam proyek-proyek terowongan dan jembatan berskala internasional.

Sebagai penutup, perjalanan ini juga menyinggung sisi lain Jepang melalui kunjungan ke kawasan budaya dan pariwisata seperti Kawagoe City dan Kawasaki Municipal Japanese Folk House. Di tempat-tempat ini, terlihat bagaimana Jepang menjaga warisan budaya dan arsitektur tradisional secara berkelanjutan, seiring dengan kemajuan industrinya.

Secara keseluruhan, business trip ke Jepang ini tidak hanya memberikan pembelajaran teknis dan bisnis, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana strategi, budaya kerja, dan visi jangka panjang menjadi fondasi utama keberhasilan industri konstruksi dan manufaktur Jepang.