CAFEO ke-35 Bangkok 2017: Membangun Jejaring Insinyur ASEAN Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Partisipasi dalam Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) ke-35 di Bangkok menjadi forum strategis bagi para insinyur ASEAN untuk berbagi praktik terbaik, memperkuat standar profesi, serta mendorong kolaborasi regional menuju pembangunan berkelanjutan

11/21/20174 min read

Memperkuat Standar dan Mobilitas Insinyur ASEAN

Partisipasi dalam Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) ke-35 yang diselenggarakan pada 16–18 November 2017 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand, menjadi pengalaman profesional yang bernilai strategis. Konferensi ini merupakan agenda tahunan ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO), sebuah organisasi non-pemerintah yang menghimpun institusi keinsinyuran negara-negara ASEAN dengan mandat utama memperkuat kerja sama regional, memfasilitasi mobilitas insinyur, serta merumuskan dan mengembangkan standar dasar kompetensi profesi keinsinyuran di tingkat kawasan.

CAFEO ke-35 dihadiri oleh delegasi kehormatan dari institusi keinsinyuran negara-negara ASEAN, meliputi Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, serta Timor Leste. Kehadiran para delegasi tersebut menegaskan peran CAFEO sebagai forum strategis dalam menjembatani kolaborasi lintas negara di bidang pendidikan, praktik profesional, dan pengembangan kapasitas insinyur ASEAN.

Rangkaian kegiatan CAFEO ke-35 berlangsung secara komprehensif, mencakup technical visit, friendly golf tournament, opening ceremony, country report presentation, technical paper sessions, pertemuan AFEO Energy Working Group, YEAFEO (Young Engineers AFEO) Meeting, WEAFEO (Women Engineers AFEO) Meeting, hingga penganugerahan AFEO Awards kepada delegasi dengan kontribusi terbaik dari masing-masing negara. Seluruh agenda tersebut ditutup dengan farewell banquet yang sarat dengan semangat persahabatan dan kebersamaan antarinsinyur ASEAN.

Konferensi tahun ini mengusung tema “Towards Sufficiency Economy: Pathways to Sustainable Development”, yang merefleksikan komitmen kawasan ASEAN dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi, inovasi, dan penguatan peran strategis profesi insinyur dalam menjawab tantangan global.

Hari pertama kegiatan diawali dengan kedatangan delegasi di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Kesempatan hadir lebih awal dimanfaatkan untuk mengikuti agenda technical visit ke proyek Sunny Bangchak Renewable Energy (Solar Power Project) yang berlokasi di Tambon Bang Krasan, Distrik Bang Pa-in, Provinsi Ayutthaya. Kunjungan ini memberikan gambaran langsung mengenai pengembangan energi terbarukan di Thailand.

Proyek pembangkit listrik tenaga surya tersebut memiliki kapasitas terpasang sebesar 38 MW dan berfungsi memasok kebutuhan listrik komersial di bawah pengawasan otoritas ketenagalistrikan setempat. Melalui kunjungan ini, peserta memperoleh wawasan mengenai penerapan teknologi energi bersih skala besar, pengelolaan sistem pembangkit, serta kebijakan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan nasional Thailand.

Pada hari kedua, delegasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengikuti Official Opening Ceremony CAFEO ke-35 & National Engineering 2017 di QSNCC, yang dilanjutkan dengan welcome dinner. Agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring profesional dan diplomasi keinsinyuran antarnegara ASEAN.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan sesi foto bersama dengan jajaran tokoh PII, antara lain Ir. Bambang Goeritno, Ir. Danaldi, Ir. Hermanto Dardak, Ir. Audie Rumayar, dan Ir. Heru Dewanto. Kehadiran para tokoh ini menegaskan peran aktif dan posisi strategis PII dalam forum keinsinyuran regional ASEAN.

Hari ketiga difokuskan pada conference sessions yang diisi dengan berbagai technical paper sessions. Topik yang dibahas mencakup pendidikan dan pengembangan kapasitas keinsinyuran, transportasi dan logistik, kota dan infrastruktur berkelanjutan, teknologi hijau, teknologi informasi dan komunikasi, mitigasi dan manajemen kebencanaan, keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan dan energi, serta alih teknologi dan praktik keinsinyuran. Diskusi ini mencerminkan kompleksitas tantangan pembangunan kawasan serta peran insinyur dalam merancang solusi yang berkelanjutan dan berbasis pengetahuan.

Di sela-sela rangkaian konferensi, delegasi Indonesia melakukan kunjungan kehormatan (courtesy call) ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok dan diterima langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Thailand, Bapak Ahmad Rusdi. Pertemuan ini memperkuat sinergi antara diplomasi negara dan peran strategis profesi insinyur Indonesia di tingkat regional.

Hari keempat diisi dengan agenda country report presentation. Indonesia diwakili langsung oleh Ketua Umum PII, Dr. Ir. Hermanto Dardak, IPU, yang memaparkan sistem profesi keinsinyuran nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Paparan tersebut mencakup kondisi pembangunan nasional, percepatan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, perkembangan GDP dan GDP per kapita, serta program pembangunan ketenagalistrikan dan energi terbarukan.

Presentasi Indonesia ditutup dengan pemutaran video yang menampilkan percepatan pembangunan infrastruktur nasional serta keterlibatan aktif insinyur Indonesia di berbagai proyek strategis. Paparan ini memperoleh perhatian dan apresiasi dari para delegasi negara-negara ASEAN sebagai representasi praktik keinsinyuran yang progresif dan adaptif.

CAFEO ke-35 juga dihadiri oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Ir. Airlangga Hartarto, MMT., MBA., IPU, yang menyampaikan pandangan singkat mengenai arah dan cita-cita pembangunan industri Indonesia ke depan. Beliau menegaskan peran strategis insinyur dan PII dalam mengakselerasi transformasi industri nasional menuju daya saing global.

Rangkaian kegiatan CAFEO ke-35 resmi ditutup dengan farewell banquet yang menampilkan pertunjukan budaya dan delegate performance dari masing-masing negara ASEAN. Penutupan ini menjadi simbol kuat persahabatan, kolaborasi, dan komitmen bersama para insinyur ASEAN dalam membangun kawasan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan saling terhubung.